Friday, January 6, 2012

Membangun Kemandirian Teknologi Bangsa dengan Free Open Source Software

 Free Open Source Software (http://voipfreak.net/)

Teknologi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia sebagai salah satu bentuk kebudayaan (Koentjaraningrat : 2000). Teknologi informasi merupakan subordinansi yang mendukung adanya era informasi. Era informasi menjadi abad baru yang mendongkrak kebudayaan manusia dengan seiring semakin mudahnya orang-orang untuk berbagi. Hal ini membuka pintu gerbang bagi siapa saja dan dari mana saja selama memiliki akses yang tinggi pada informasi. Mantan Sekjen PBB, Kofi Annan menyatakan bahwa ketidakmampuan seseorang mengakses informasi sama bahayanya dengan ketidaktersediaan kebutuhan-kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan.

Informasi sebagai bentuk aset manusia tidak bisa dilepaskan dari adanya penggunaan komputer. Penggunaan komputer sebagai syarat penting untuk akselerasi penyebaran informasi akan berakhir pada wacana penggunaan software sebagai alat yang memberikan fungsionalitas pada komputer. Software sebagaimana tulisan, fotografi, perkataan dan karya manusia lainnya merupakan salah satu karya yang memiliki hak cipta (copyright). Hak cipta tercipta secara otomatis ketika karya tersebut dibuat dan melekat pada pembuat, meskipun sang pembuat tidak mendefinisikannya. Lebih banyak pemrogram yang telah mendefinisikan hak-hak apa saja yang dimiliki oleh pengguna software ciptaannya yang biasanya dicantumkan dalam EULA (End User License Agreement).

Dalam dunia pemrograman, dikenal istilah kode sumber (source code) dan binary. Apa itu kode sumber dan binary? Kode sumber adalah sekumpulan algoritma yang dibuat yang melekat pada suatu software, sementara binary adalah hasil akhir dari suatu software. Dalam dunia nyata, kode sumber adalah resep masakan beserta cara pembuatannya (algoritmanya), sementara binary adalah masakannya itu sendiri. Secara garis besar software-software yang dibuat memiliki dua paradigma besar berdasarkan sifat keterbukaan kode sumbernya, yaitu FOSS (Free Open Source Software) dan PCSS (Propietary Closed Source Software).

Sejarah FOSS
Ternyata dunia software yang begitu teknis juga memiliki ideologi dan filosofi yang menyertainya. Pada awal hadirnya komputer, software bersifat free open source. AT&T UNIX pada tahun 1969 adalah salah satu contoh sistem operasi yang menjalankan pendekatan ini, teknisi Bell Lab membangun sistem operasi UNIX yang didistribusikan ke institusi akademik secara bebas biaya dan menyediakan kode sumber. Perlu diketahui bahwa semenjak itu sistem operasi UNIX yang memasyarakatkan bahasa pemrogaraman C yang merupakan bahasa pemrograman lintas platform berpeluang menjadi sistem operasi universal untuk tingkat mainframe, mengingat saat itu masing-masing perusahaan dan vendor membuat hardware dan sistem operasinya sendiri-sendiri sehingga menutup kemungkinan adanya interopabilitas. Selama kurun waktu 1970an, sistem operasi UNIX semakin populer karena sifatnya yang bebas disebarluaskan dan dimodifikasi.


UNIX mulai 'mencium' uang ketika AT&T membuat sistem operasi UNIX System V yang dikomersilkan dan menyembunyikan kode sumbernya. Hal ini menjadi trend baru yang di kemudian hari menjadi bentuk Proprietary Closed Source Software. Desakan pebisnis software ini sampai memunculkan UU Hak Cipta tahun 1980.

Ternyata, di sisi lain, ada beberapa kelompok orang yang menginginkan agar software kembalii pada sifat asalnya, yaitu tersedia kode sumbernya dan dapat dimodifikasi. Dipimpin oleh gerakan “free software”, Richard M. Stallman (RMS) mendeklarasikan proyek GNU dan lisensi copyleft. Pada tahun 1984 ia mengumumkan manifesto GNU2 yang menekankan istilah “free software” yang berkomitmen membuat pengganti UNIX yang kompatibel dengan UNIXnya sendiri. Dia memulai membuat perkakas dan pustaka yang kompatibel dengan sistem operasi UNIX (seperti penyunting teks, kalkulator, dsb). Namun, hingga awal 1990an RMS belum mampu membuat sistem operasi GNU secara penuh karena belum memiliki kernel yang matang. Kernel adalah jantungnya sistem operasi yang merupakan jembatan utama antara software dengan hardware, ia mengatur hal-hal seperti driver, manajemen memori dll.

Sementara itu, di bagian belahan dunia lain, tepatnya di Finlandia, Linus Torvalds membuat sebuah kernel yang ia bagi ke forum Internet yang kemudian diberi nama Linux. Linux ini mendapat sambutan luar biasa dengan perbaikan-perbaikan karena dikerjakan secara gotong royong. Kemudian, proyek GNU nya Richard Stallman akhirnya disatukan dengan Linuxnya Linus Torvald dan terciptalah nama gabungan GNU/Linux yang merupakan sistem operasi lengkap dan siap digunakan dan dewasa ini dalam bentuk paling mutakhirnya, distribusi (disingkat distro) yang sekarang mencapai kepopuleran paling tinggi yaitu Ubuntu.

Perlu diketahui sebelumnya bahwa free software harus dibedakan dengan freeware. Suatu software gratis seperti Yahoo! Messenger tidak bisa dikatakan sebagai free software karena tidak tersedianya kode sumber.

Jika ada orang yang menanyakan kenapa penulis menggunakan Free Open Source Software? Mungkin sebagian besar jawabannya adalah karena sifatnya yang 'gratis', tanpa membeli lisensi dan tanpa memaparkan komputer pada resiko komputer terkena malware seperti virus, trojan, dsb karena mencari nomor serial, crack, patch, dsb. Jadi, kita sebaiknya menghapuskan pemikiran bahwa free software berarti software yang gratis. “Free as free speech, not free beer”, begitu kata Richard Stallman, free sebagai kebebasan, bukan free sebagai gratis. Bahkan, fenomena pelabelan 'gratis' ini sampai memunculkan gerakan lain yang serupa, yaitu gerakan Open Source pada tahun 1998.

Model Bisnis Berbasis FOSS
Jika ada yang masih ragu tentang kehebatan FOSS, lihatlah perusahaan-perusahaan besar yang sudah mengadopsinya, bahkan Internet merupakan salah satu teknologi yang didukung penuh oleh teknologi FOSS (lihat server web Apache, bahasa pemrograman PHP, semuanya FOSS). Lihatlah Android besutan Google yang sudah merajai 52,5% pangsa pasar ponsel cerdas pada kuartal ketiga 2011. Kemudian film Superman, Big Buck Bunny dan Lord of The Ring semuanya menggunakan FOSS.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa FOSS sangat terbuka untuk dikomersilkan ada beberapa model bisnis yang berjalan di atas atau beriringan dengan FOSS:4
  1. Jasa berbasis kompetensi FOSS tanpa punya produk. Contoh: Linuxcare, dll. (Umumnya perusahaan ICT di Indonesia).
  2. Jasa berbasis produk dan branding: Pengembang distro, support, training, sertifikasi, dll. Contoh: RedHat, SUSE, Mandriva, Ubuntu, dll.
  3. Widget Frosting: Jual hardware dg FOSS. Contoh: Dell, HP, IBM, Nokia, Android, dll.
  4. Accessorizing: buku, CD, boneka, dll. Contoh: O'Reilly, InfoLINUX, GudangLinux, dll.
  5. Loss Leader: Melepas versi FOSS untuk mendapatkan pemasukan dari produk proprietary yang sejenis. Contoh: Mozilla
  6. Memberikan software, menjual merek. Contoh: OpenOffice.org (Oracle), Android (Google), dll.
  7. Dual Licensing. Contoh: MySQL, PJSIP, OpenOffice-StarOffice, dll.
  8. Dual Mission. Contoh: Sendmail, Alfresco, dll.
  9. Proprietary di atas FOSS: Oracle (Linux dan Enterprise Applications), dll.

Kemandirian dengan FOSS

Dalam definisi Free Software, suatu free software harus memenuhi empat jenis kebebasan:
  1. Kebebasan menjalankan program.
  2. Kebebasan mempelajari isi program dan mengubahnya sesuai dengan kebutuhan
  3. Kebebasan mendistribusikan kembali program
  4. Kebebasan mengembangkan program dan merilis hasil pengembangan kita kepada komunitas
Hal ini sangat sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia yang sering kita baca dalam buku PPKn, yaitu gotong royong. Di sinilah ruh FOSS berperan, seorang pengguna atau pembuat dari kalangan apapun dan manapun diberi kebebesan untuk mempelajari, menyalin, mendistribusikan dan memodifikasi software. Kita bandingkan dengan software PCSS, kita hanya diperbolehkan mempergunakannya itu juga dalam kuantitas yang sangat kecil karena mereka dilindungi oleh paten. Apa itu paten? Tidak seperti hak cipta yang muncul dengan sendirinya, paten harus dikeluarkan oleh suatu lembaga yang berwenang. Menurut Richard Stallman, paten ini sangat berbahaya karena membatasi produktivitas kita dalam membuat software. Ketika kita akan membuat software, kita harus mencari apakah ada paten yang terkait dengan ide pembuatan software tersebut. Saat kita mengerjakan software berlangsung dan keluar paten yang berkaitan software yang kita buat, maka kita tidak boleh mengklaim bahwa software yang kita buat adalah berasal dari kita sendiri.

Marilah kita lihat fakta bahwa Indonesia merupakan negara yang masih dalam “penjajahan” bangsa lain. Dengan tingkat konsumsi yang tinggi dan rendahnya nasionalisme terhadap produk sendiri ditambah rendahnya tingkat keberhasilan pendidikan (bukan tingkat pendidikan), menyebabkan bangsa kita lebih menyukai produk asing, tentu akan kembali berimbas pada 'penjajahan'. Hal ini akan terus menerus berlanjut apabila kita tidak menyadari ketergantungan kita dalam teknologi informasi terhadap produk asing. Saatnya kita berpikir panjang untuk mewujudkan kemandirian teknologi bangsa. Nah, hal ini bisa diwujudkan apabila kita mampu membuat dan memakai produk sendiri, dan itu sangat didukung oleh FOSS dengan melihat beberapa fakta bahwa:
  1. PCSS menuntut biaya lisensi yang tidak sedikit, coba kalikan saja jika dalam suatu perusahaan menggunakan software PCSS asli, berapa juta yang harus dikeluarkan? Mengapa tidak dianggarkan untuk peningkatan sumber daya manusia dalam menciptakan FOSS dan menggunakannya? Belum lagi ada biaya lain seperti biaya sistem yang down atau biaya pembelian program antivirus dan perbaikan dari perusakan virus.
  2. FOSS bebas untuk dipelajari dan sangat terbuka kemungkinan untuk dijadikan objek penelitian. Setiap orang atau institusi bebas untuk mempergunakan, mempelajari kode sumber dan memodifikasinya
  3. FOSS memiliki standar terbuka, interoperabilitas dan keamanan yang tinggi.
  4. FOSS memiliki kapabilitas dalam menciptakan komunitas-komunitas yang melek teknologi.
  5. Semakin banyak komunitas FOSS yang memodifikasi software-software FOSS akan menciptakan software-software yang didistribusikan secara bebas dan semakin banyak yang mempergunakannya dan semakin banyak yang mempelajarinya dan semakin orang yang tahu akan teknologi
  6. Akhirnya, kita menjadi bangsa yang mandiri yang mampu berswasembada teknologi.

Apa yang Bisa Dilakukan?
Yang pasti, kita harus mengubah dulu paradigma bahwa menggunakan FOSS dalam hal ini GNU/Linux adalah sulit dan tidak user friendly. Takaran kenyamanan dalam menggunakan software sangat dipengaruhi oleh kebiasaan kita sebelumnya. Konsepsi 'tidak nyaman' kita dikarenakan kebiasaan kita dalam menggunakan sistem operasi propietary sejak awal. Jika di sekolah-sekolah awalnya diajarkan GNU/Linux, pertanyaannya kemudian bukan “Apa itu Linux”, tetapi “Apa itu Windows”? Belajar adalah suatu proses, demi kemajuan bangsa kenapa tidak? Semuanya sama, kita harus berdarah-darah sampai mampu mengendarai sepeda dengan sempurna. FOSS adalah suatu proses revolusi, setiap saat pengembangannya yang 'keroyokan' memberikan jaminan software-softwarenya yang akan terus berkembang, terlebih jika penggunanya juga mengirimkan laporan bugs (kesalahan) pada pengembangnya, tentu software tersebut akan lebih berkembang lagi. Penulis yakin bahwa pengguna software hanya menggunakan fitur-fitur dasar dari sebuah aplikasi dan FOSS dapat memenuhinya, bahkan lebih. Marilah berhenti menyalahkan antarmuka yang tidak nyaman walau di luar ini GNU/Linux sudah memiliki tampilan yang luar biasa cantik, FOSS bergerak dari fungsi, bukan dari tampilan. Jika mau lebih, ya silahkan membayar lisensi selama memang dibutuhkan. Marilah mengajak orang sebanyak-banyaknya tentang pentingnya FOSS dan efek jangka panjang bagi bangsa ini.FOSS itu solusi, bukan alternatif!!!!

Salam open source!!!
Referensi:
http://staff.blog.ui.ac.id/jp/mengapa-foss-penting/, diakses Senin, 10 Oktober 2011 15:59
http://www.shlomifish.org/philosophy/foss-other-beasts/revision-2/foss-and-other-beasts/history.html
http://aosi.or.id/?q=node/74, diakses 3 Januari 2012 12:20

1 comments:

  1. Terima kasih ya gan atas artikelnya, thanks for sharing :) inspiratif..!!!

    ReplyDelete