Tuesday, November 22, 2011

Indonesia Bicara Open Source




Kalau kita membaca taglinenya lumbung AOSI, ada secerca harapan tinggi bagi negara Indonesia yang selalu nomor satu dalam hal pembajakan (yo ah negara agraris ini) untuk bisa membangun kemandirian dalam hal Teknologi Informasi Komunikasi. Kenapa TIK? Jawaban yang paling sederhana adalah di era informasi ini, kalau kita tidak pernah muncul ke permukaan sebagai pemain, pastinya akan "dijajah" terus menerus. Nah, untuk itulah mau tak mau kita memang harus mandiri.

Nah, pertanyaan selanjutnya kenapa harus open source? Mungkin lebih lengkapnya Free Open Source Software, selanjutnya kita sebut FOSS. Sebagaimana diketahui bahwa FOSS dengan paradigma transparansi kode sumbernya memungkinkan siapapun darimanapun untuk menyalin, menyebarluaskan dan memodifikasi software tanpa adanya larangan apapun. Untuk masalah free (baca:kebebasan) bukan berarti gratis. Walaupun banyak sekali bertebaran di Internet image GNU/Linux yang secara kasar memang gratis, tanpa memperhitungkan biaya koneksi dan biaya pembakaran CD/DVD, tetap saja ada biaya yang dikeluarkan dalam mendapatkan GNU/Linux itu. Kebebasan inilah yang kiranya akan menjadi modal utama menuju kemandirian, bukan yang lain.

Berangkat dari pemikiran itu, kami, selaku pengguna aktif GNU/Linux ingin sekali menularkan semangat berbagi dan berkarya untuk semua kalangan masyarakat. Karena GNU/Linux itu merupakan agen penyelamat kita terhadap ketergantungan, maka kami berinisiatif membantu merakit satu distro yang berfokus pada utilitas dan fungsi. Walaupun hanya bersifat remasteran, karena keterbatasan ilmu dan waktu, akan tetapi kami percaya bahwa apa yang diinginkan pengguna bukanlah sistem operasinya, melainkan manfaat yang diambil dari aplikasi-aplikasinya. Oleh karenanya, untuk tahap awal kami bertekad menciptakan (baca: merakit) distro baru yang lebih kontekstual dan focus on utility, maka sambutlah distro remasteran ini yang kami beri nama

Sundara OS.

Apa itu Sundara? Sundara berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti 'tampan', dan kata ini sudah diserap sebagai kosakata Bahasa Sunda. Kami ingin memberikan tidak hanya fungsionalitas, melainkan juga keindahan yang membuat pengguna lebih kerasan dan betah menggunakan GNU/Linux. Dalam konteks kedaerahan, distro ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan pemasyarakatan FOSS di daerah Tasikmalaya. Di bawah naungan KPLT (Komunitas Penggiat Linux Tasikmalaya), kami menjadikan distro ini sebagai langkah awal menuju kemandirian TIK Indonesia.

FOSS is not a religion, it is just a way to make us educated and socialized. So, don't ever taunt anything.

Pantrang mulang memeh meunang!!! 

0 comments:

Post a Comment