Monday, October 19, 2015

Status Quo Pengembangan Sundara OS (Bagian 1)


Bismillâhirrahmânirrahîm



Apa kabar Wadiabalad Sundara OS sekalian? Mudah-mudahan selalu sehat dan semangat.

Pada kesempatan kali ini kami akan berbagi beberapa hal yang seyogyanya kami ungkapkan. Bagi Anda yang berkenan, silahkan memberikan kritik dan saran di komentar, artikel ini kami anggap sebagai media yang dibuat untuk memenuhi aspek keterbukaan, sebagaimana menjadi suatu fitrah dari dunia Free Open Source Software sendiri. Baiklah, sebelum masuk ke pembicaraan, kami sedikit bercerita terlebih dahulu tentang Sundara OS ini sedari awal sampai saat ini.

Akhir tahun 2011 adalah awal kami menerbitkan distro remaster yang sampai sekarang kami anggap 'abal-abal' ini. Wadiabalad bisa periksa sendiri, arsip-arsip di Internet yang memberitakan terutama dari blog lama --walau secara tak tahu malu-- munculnya 'yet another so called local linux distro' bernama Sundara OS ini. Jujur saja, munculnya Sundara OS ini juga terinspirasi dari distro-distro dan atau remasteran lainnya. Saat itu kami menemukan bahwa metode remaster yang mencadangkan sebagian besar kebutuhan kami dalam ber-FOSS ria sangatlah membantu diri kami sendiri, lantas kenapa tidak dibagikan saja kepada yang lainnya?

Perlu digarisbawahi sekarang bahwasanya Sundara OS ini secara teknologi sangat jauh lah dari kawan-kawan yang lain semisal BlankOn dengan Manokwari-nya, IGN dengan IGN SDK ->IoT-nya, atau Linux Ramayana dengan WayangDE-nya. Kami tidaklah menyasar hal seperti itu. Tanpa mengurangi penghargaan bagi kawan-kawan pengembang lainnya, bagi kami, di dunia GNU/Linux, sudah terlalu banyak sekali lingkungan desktop yang disediakan, kami tidak ingin mengulang roda kembali (reinventing the wheel) hanya untuk memberikan sesuatu yang lebih tergubah (custom). Ya, walaupun argumentasi serupa bisa saja dialamatkan juga pada kami dengan pertanyaan semisal "Lha, terus loe ngapain bikin distro  remaster lagi, bukannya sudah sangat banyak itu di luar negeri maupun dalam negeri yang bikin distro? ". Silahkan saja, teman-teman berpikir seperti itu, tapi kalau masih berkenan, silahkan baca terlebih dahulu sampai akhir artikel lainnya, siapa tahu Anda akan menemukan titik cerah kenapa mesti kami menelurkan distro remaster ini.

Pertimbangan-pertimbangan

Satu hal yang pasti yang kami sadari sampai terciptanya Sundara OS ini adalah _besarnya_ jurang yang menganga antara pengguna Windows dan pengguna GNU/Linux tentang bagaimana menilai suatu lingkungan desktop itu 'ramah' atau tidak. Jika Anda pengguna GNU/Linux yang sudah sangat mahir, ini mungkin menjadi semacam hal yang remeh temeh, tapi bagi kami yang berusaha mencoba memahami para pengguna yang masih baru, katakanlah sebagai pengguna awam, kami mengambil kesimpulan berdasarkan kenyataan di lapangan bahwasanya desktop yang ramah adalah lingkungan desktop yang dipakai oleh sistem operasi arus utama (mainstream), yaitu Microsoft Windows. Berangkat dari sana, maka kami berinisiatif menggunakan pendekatan sistem operasi tersebut dalam mengatur lingkungan desktopnya untuk kemudian kami 'suntikkan' kepada Sundara OS.

Berangkat pada pemilihan distro induk. Mungkin Wadiabalad bisa baca di halaman tentang Sundara OS lagi kenapa kami memilih Ubuntu. Tapi sejujurnya kami lebih suka memilih distro turunan Ubuntu karena akan menghemat waktu dan memperingan pengembangan, karena hanya akan melakukan oprek relatif sedikit. Dari sekian banyak distro turunan Ubuntu, pilihan kami jatuh pada Zorin OS dengan beberapa pertimbangan:
  1. Kembali lagi ke pertimbangan utama yaitu tentang lingkungan desktop yang memiliki kemiripan tertinggi dengan sistem operasi Microsoft Windows. Zorin OS bahkan mengklaim menjadi distro yang menjadi gerbang ke dunia GNU/Linux "The gateway to Linux for Windows user".
  2. Tidak seperti LinuxMint, saat itu Zorin OS tidak memiliki lumbung khusus yang didedikasikan, sehingga aplikasi-aplikasi khasnya seperti Zorin Splash Screen Manager, Zorin Look Changer atau Zorin Web Browser Manager akan mudah digubah tanpa nantinya terubahkan oleh pemutakhiran dari lumbung mengingat _belum adanya_ lumbung khusus bagi Sundara OS.
Pertimbangan kedua setelah antarmuka lingkungan desktop adalah tentang konten. Kami ingin sekali, Sundara OS ini tidak hanya dibekali dengan perangkat lunak yang halal dan bebas, melainkan juga memiliki konten-konten tambahan yang nantinya akan menambah nilai guna (added value) bagi pengguna. Aspek ini yang menjadi andalan kami. Konten ini adalah sesuatu yang beyond application, sesuatu yang melebihi aplikasi, karena akan menambah kegunaan dari suatu aplikasi. Baik, mungkin Wadiabalad tidak lupa dengan berragam basis data kamus Stardict/Goldendict seperti Oxford Learner's Advanced Dictionary, Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, Loka Tarjamah Indonesia-Sunda, Sunda-Indonesia, dan Wordnet. Ada juga berragam palet (template), pengaya (add-ins) LibreOffice (semua jenis, dari korespondensi bisnis, memo, kartu nama bisnis, galeri (clip art di dunia MS Office), latar presentasi, laporan keuangan bulanan, AlQuran di Writer, dan sebagainya-dan sebagainya), ada juga plugin-plugin untuk GIMP agar bisa bertenaga (powerfull) layaknya di Photoshop, dukungan terhadap aksara non-Latin yang nusantara, lalu dalam aspek kemudahan memasang perangkat lunak ada juga aplikasi-aplikasi yang mengarah pada offline installer. Bisa diperiksa di setiap catatan rilis.

Apa yang Kurang

Setelah agak berbangga di awal, kami juga sadar tentang kekurangan kami. Kekurangan kami yang paling utama adalah kami kekurangan orang, ya betul. Itu permasalahan umum di dunia FOSS. Bahkan Elementary OS yang keren nan cantik itu hanya mempekerjakan secara penuh dua orang saja. dua orang saja Bung!! Tapi ya itu bukan perbandingan, kami tidak memiliki keahlian setinggi itu. Bahkan, --mohon maaf-- dengan distro-distro yang benar-benar lokal saja kami tidak bisa diperbandingkan. Bagaikan langit dan sumur, nyungseb lagi ke dalam ini mah. Kami tidak pernah membuat satu pun perangkat lunak atau perkakas (tools) sekeren kawan-kawan itu. Yang kami lakukan hanyalah memilih dan memilah dengan pertimbangan yang lebih cenderung gegabah mana perangkat lunak atau perkakas yang bagus untuk dimasukkan. Bayangkan, untuk membuat sesi Sundara Desktop saja, tidak ada satupun perangkat lunak yang kami ciptakan. Kami hanya menggunakan yang sudah ada: yang ada adalah yang terbaik. Panelnya menggunakan panel GNOME bawaan (versi awal, kemudian beralih ke Avant Window Navigator), menu-nya menggunakan Cardapio, manajemen jendela menggunakan Compiz, peluncurnya kami menggunakan Synapse. Semua hanya merakit, kemudian melakukan konfigurasi, bukan mem-patch, atau meningkatkan fiturnya. Mungkin hanya beberapa yang memang kami perbaiki, itupun tidak terlalu teknis, salah satunya yang cukup memabanggakan adalah Sundara Look Changer dan Sundara Driver Offline Installer.

Lebih jauh lagi, kami belum sama sekali memiliki lumbung sendiri, sehingga ketika tulisan branding kembali jadi Ubuntu lagi, ikonnya jadi bawaan Humanity lagi, tema Greeternya jadi Ubuntu lagi, tombol dash Unity jadi Ubuntu lagi wajar saja, kami tidak memiliki lumbung sendiri. Jangankan lumbung, PPA saja kami tidak punya, walau sudah membuat akun. Karena kami, sekali lagi tidak punya banyak sumberdaya manusia yang cukup terampil. Bukan tidak bisa, melainkan belum ke arah sana saja, walaupun kami kerap menaruh harapan ke arah sana.

Apa yang kami lakukan adalah otak-atik, poles dan lempar ke publik. Jangan berharap jika ada awakutu (bug) atau kekurangan di sana sini kami lebih banyak tidak mengertinya, apalagi jika ada yang membanding-bandingkan seperti "Kok perangkat nirkabel eksternal LINKSYS di Sundara OS tidak bisa kedeteksi, padahal di Ubuntu bisa", bisa kami pastikan kalau penyebab hal seperti itu kami tidak bisa menjawab, karena kami tidak sampai mengoprek sampai ke tingkatan low level seperti itu. Sebagian besar masih bawaan Ubuntu, sehingga kemungkinan besar ada aspek lain dari sisi pengguna mungkin yang mesti ditelusuri. Kami pun tidak pernah membuat versi Alpha, Beta atau semacamnya, karena kerjaan kami seakan-akan melakukan tangkapan sistem saja (capture) terhadap Ubuntu yang sudah rilis stabil.

Kalau Anda mau menambah lagi kekurangan Sundara OS ini, mungkin tidak akan habis-habis sampai unta masuk ke lubang jarum. Tapi inilah usaha jerih payah kami, kami sudah menerima berbagai pujian, apresiasi dan tidak lupa juga kritikan bahkan cercaan dan ledekan. Masih segar dalam ingatan kami saat kami memutuskan membuat suatu formulir pendaftaran dan memperketat metode unduh, kami mendapatkan semacam hinaan bernada 'kok distro seecek-ecek ini harus bayar', padahal yang kami lakukan hanyalah demi kepentingan penelitian, dan juga menjaga eksistensi keberlanjutan pengembangan.

Semua itu kami lakukan atas dasar hobi saja, dan bisa Anda tebak sesuatu yang dianggap hobi kemudian tidak memberikan sustainibilitas bisnis, suatu saat akan tersendat di tengah jalan. Itu persis dengan apa yang terjadi pada kami: Tahun 2014 kemarin, perkakas utama yang kami andalkan, yaitu remastersys tiba-tiba tergoncang. Pengembangnya merasa resah dan gelisah karena konon dia sudah tujuh tahun melakukan ini dan dari gaya penulisannya kami menangkap ada rasa kebosanan dan kebuntuan, dia memutuskan akan menghentikan pengembangan, dan otomatis memutuskan dukungan terhadap versi Ubuntu/Debian terbaru. Ini sangat kami rasakan. Sundara OS versi pengembangan terakhir (yang sampai saat ini belum rilis juga) yang berbasiskan Ubuntu 14.04 sebenarnya sudah selesai kami rakit, hanya saja setelah diperiksa tidak bisa dipasang dikarenakan awakutu pada remastersys. Wajar saja, versi yang kami pasang di Ubuntu 14.04 itu adalah versi Ubuntu sebelumnya yang tentu ada ketidakcocokan versi sehingga menyebabkan ISO hasil remaster yang tidak bisa dipasang. Setelah kejadian itu, pengembangan berlangsung stagnan. Selama hampir setahun kami tidak bisa berbuat apa-apa.

Bersambung...


0 comments:

Post a Comment